Rabu, 19 Desember 2007

SEMILIR

Bayu,
Mengalir lembut seraya menjerit
Lantunkan syair kalam Mu
Bersenandung syahdu
Rintihkan ayat Qur’ani

Tuhan,
Terpaku raga memohon
Jalan menuju cahya Mu

Tuhan,
Semilir loh dari asa yang tlah padam
Mengharap Engkau akhirkan
Hamba sampai di sini

Tuhan,
Yang terlupa…


Gedung A-4 Unisma,
August, 16th 2002
afternoon

FORGIVE ME…

Gemuruh adzan terngiang di telingaku
Menggoreskan pilu
Menusuk relung hati
Yang tlah padam

Tiada kuasa tubuhku tergerak
Aku meronta
Aku tak kuasa
Aku tak bisa menjawab
Panggilan Mu
Tuhan,

Aku hanya bisa diam
Berharap Engkau mengerti sakit hati ini
Aku hanya mampu pasrah
Dalam lingkaran api yang terus mengurung
Hari-hariku

Robb,
Ampunilah aku
Sungguh aku tak tahan
Aku tak sanggup hadapi derita ini
Aku tak bisa……
Menjawab panggilan Mu….

Ampuni aku
Tuhan…

Kamar Buaya 4,
June, 3rd 2001

Sabtu, 08 Desember 2007

GALAU

Linang air mata yang menetes
Di hamparan sujudku
Sbagai tanda bahwa aku tetap berpasrah diri
Meski kini aku jauh dari hadap Mu

Aku kan slalu mengingat Mu
Setiap langkah hidupku
Aku mencintai Mu…

Robb,
Engkau Maha Melihat
Smua perbuatan hinaku
Kau penguasa alam
Langit dan bumi tunduk pada Mu

Kau Maha Memberi
Segala nikmat dunia ini
Kau Maha Mendengar
Segala keluh kesah jerit hatiku
Kaulah Yang Maha Suci
Ampunkan sombong dan khilafku

Tuhan,
Yang terlupa…
Aku mencintai Mu

Robb,
Jangan lepaskan iman ini
Lebih baik akhirkan saja
hidupku di alam ini
Jika hari esok lebih baik untukku…

Tlogomas,
November, 3rd 2001
Late evening

JALAN INI

Tatkala ku sadar waktu tlah menjelang senja
Ketika ku menyaksikan gumpalan mega kemerahan
Iringi tenggelamnya sang surya ke pembaringan
Di saat sayup-sayup ku mendengar rintihan suara adzan
Di sebuah surau,

Aku coba melangkah
Melangkahkan kaki di atas jalan tanah yang belepotan lumpur
Hingga tepi jurang yang ditumbuhi batuan runcing
Karma ku ingin gapai pantaiku…

Aku coba berjalan
Lewati rintangan yang sepertinya tiada ujung
Berkali terjatuh, tersungkur,
Di hmparan tanah yang bernoda
Berkali ku rapatkan kaki,
Memandang ke bawah jurang yang seakan tiada terlihat dasarnya

Aku coba berdiri,
Dan mencoba tuk bertahan
Sesekali kakiku terkilir
terperosok di sela-sela gelondoran batu dan hampir terjatuh

Aku coba bertahan,
Berdiri tegap di antara persimpangan jalan yang mulai bercabang
Ke manakah harus ku langkahkan kaki ini,
Ke kiri, kanan, lurus, ataukah berdiam…

Ke manakah harus ku melangkah,
Sementara tiang-tiang penunjuk jalan itu sudah mulai rapuh
Dan tak bisa lagi terbaca oleh mata buramku

Ke manakah aku harus berjalan,
Sementara keremangan mulai menyapa
Dan perlahan jalan ini mulai lenyap di ujung penglihatan
Ke manakah harus ku melangkah…

Waktu masih terus berjalan…
Senja tlah tiba, dan mentari mulai merayap
Ketika ku melihat gumpalan awan mulai memerah di ujung sana
Ketika aku menyaksikan sang surya mulai tenggelam di lautan
Aku ingin berteriak,
Aku datang…
Tapi terlambat,

Di pantai ini…
Aku terdiam,
memandang kaki langit di ujung penglihatan yang mulai remang
Ketika sayup-sayup ku mendengar jeritan suara kapal
Ku menyaksikan sauh telah diangkat
pertanda kapal kan segera berangkat ke tempat tujuan

Di pantai ini
Apa yang harus aku lakukan,
Sementara barang-barang perbekalan belum aku kemasi
Padahal peluit sudah nyaring terdengar
sauh sudah terangkat
Sementara aku belum berkemas,
sementara mesin kapal sudah menderu,
sementara…

Apa yang harus aku perbuat,
Tanpa barang perbekalan
Kapal sudah mulai berjalan
Namun ku tidak bisa naik ke haluan

Perlahan,
Kapal mulai menjauh
Menjauhkan ku tuk bersua dengan Mu
Maafkan, maafkan aku,
Aku tak bisa pulang
Aku tertingal…

Di pantai ini…
Ketika kapal mulai menghilang dari sudut mataku
Ketika aku tiada lagi kesempatan untuk pulang
Ketika ku tak dapat lagi bersua dengan Mu

Di hari ini…
Maafkan aku,
Aku tidak bisa kembali,
Meski ku sangat ingin bersama Mu

Robb, aku tetap mengingat Mu,
Menancapkan kalam Mu di hatiku
Meski di kejauhan…

Robb, jangan Kau lupakan aku,
Jangan kau benci diriku,
Karna ketidakmampuanku hadir untuk Mu
Robb, aku slalu mengingat dan tetap ku lukis lafadz Mu
Dalam relung hatiku

Maafkan aku Robb,
Jangan Kau lupakan aku…
Berilah aku sedikit lagi kesempatan,
Agar aku bisa membawa barang perbekalanku suatu hari nanti
Dan pulang ke rumah Mu

Perlahan,
Malam mulai merayap
Sinar mentari tiada lagi memancar
Hening,
Dingin,

Di pantai ini…
Dalam kesunyian dan penyesalan yang mendalam
Aku memohon
Berilah aku kesempatan
Maafkan ku Robb,
Ijinkan aku kembali…

Jangan lupakan aku, Robb
Aku tetap sayang engkau
Walau di dalam keremangan


December,27th 2000
0.17 a.m
ketika alunan Takbir menggema,
1 syawal 1421 H
di ruang belakang rumah