Tatkala ku sadar waktu tlah menjelang senja
Ketika ku menyaksikan gumpalan mega kemerahan
Iringi tenggelamnya sang surya ke pembaringan
Di saat sayup-sayup ku mendengar rintihan suara adzan
Di sebuah surau,
Aku coba melangkah
Melangkahkan kaki di atas jalan tanah yang belepotan lumpur
Hingga tepi jurang yang ditumbuhi batuan runcing
Karma ku ingin gapai pantaiku…
Aku coba berjalan
Lewati rintangan yang sepertinya tiada ujung
Berkali terjatuh, tersungkur,
Di hmparan tanah yang bernoda
Berkali ku rapatkan kaki,
Memandang ke bawah jurang yang seakan tiada terlihat dasarnya
Aku coba berdiri,
Dan mencoba tuk bertahan
Sesekali kakiku terkilir
terperosok di sela-sela gelondoran batu dan hampir terjatuh
Aku coba bertahan,
Berdiri tegap di antara persimpangan jalan yang mulai bercabang
Ke manakah harus ku langkahkan kaki ini,
Ke kiri, kanan, lurus, ataukah berdiam…
Ke manakah harus ku melangkah,
Sementara tiang-tiang penunjuk jalan itu sudah mulai rapuh
Dan tak bisa lagi terbaca oleh mata buramku
Ke manakah aku harus berjalan,
Sementara keremangan mulai menyapa
Dan perlahan jalan ini mulai lenyap di ujung penglihatan
Ke manakah harus ku melangkah…
Waktu masih terus berjalan…
Senja tlah tiba, dan mentari mulai merayap
Ketika ku melihat gumpalan awan mulai memerah di ujung sana
Ketika aku menyaksikan sang surya mulai tenggelam di lautan
Aku ingin berteriak,
Aku datang…
Tapi terlambat,
Di pantai ini…
Aku terdiam,
memandang kaki langit di ujung penglihatan yang mulai remang
Ketika sayup-sayup ku mendengar jeritan suara kapal
Ku menyaksikan sauh telah diangkat
pertanda kapal kan segera berangkat ke tempat tujuan
Di pantai ini
Apa yang harus aku lakukan,
Sementara barang-barang perbekalan belum aku kemasi
Padahal peluit sudah nyaring terdengar
sauh sudah terangkat
Sementara aku belum berkemas,
sementara mesin kapal sudah menderu,
sementara…
Apa yang harus aku perbuat,
Tanpa barang perbekalan
Kapal sudah mulai berjalan
Namun ku tidak bisa naik ke haluan
Perlahan,
Kapal mulai menjauh
Menjauhkan ku tuk bersua dengan Mu
Maafkan, maafkan aku,
Aku tak bisa pulang
Aku tertingal…
Di pantai ini…
Ketika kapal mulai menghilang dari sudut mataku
Ketika aku tiada lagi kesempatan untuk pulang
Ketika ku tak dapat lagi bersua dengan Mu
Di hari ini…
Maafkan aku,
Aku tidak bisa kembali,
Meski ku sangat ingin bersama Mu
Robb, aku tetap mengingat Mu,
Menancapkan kalam Mu di hatiku
Meski di kejauhan…
Robb, jangan Kau lupakan aku,
Jangan kau benci diriku,
Karna ketidakmampuanku hadir untuk Mu
Robb, aku slalu mengingat dan tetap ku lukis lafadz Mu
Dalam relung hatiku
Maafkan aku Robb,
Jangan Kau lupakan aku…
Berilah aku sedikit lagi kesempatan,
Agar aku bisa membawa barang perbekalanku suatu hari nanti
Dan pulang ke rumah Mu
Perlahan,
Malam mulai merayap
Sinar mentari tiada lagi memancar
Hening,
Dingin,
Di pantai ini…
Dalam kesunyian dan penyesalan yang mendalam
Aku memohon
Berilah aku kesempatan
Maafkan ku Robb,
Ijinkan aku kembali…
Jangan lupakan aku, Robb
Aku tetap sayang engkau
Walau di dalam keremangan
December,27th 2000
0.17 a.m
ketika alunan Takbir menggema,
1 syawal 1421 H
di ruang belakang rumah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar